Sore itu, minggu pertama Ramadhan 1432 H, saya sedang bersilaturahim dengan saudara-saudara saya di Semarang di rumah salah seorang ustadz. Sore itu untuk pertama kalinya saya mendengar sebuah kabar gembira. salah seorang sahabat saya akan menggenapkan diennya dengan.. salah satu “bos” saya dulu.
Waaahh, Barokalloh..
Saya langsung meng-sms sahabat saya.
Ah, saya semakin terpesona dengan salah satu kuasa Allah dalam menentukan jodoh seseorang. Siapa yang sangka sahabat saya berjodoh dengan “bos” saya? Yah, itulah kuasa Allah.
*sok2an serius mode:on
Elwa..
Saya kenal Elwa dari awal bergabung dengan sebuah kegiatan mahasiswa ekstra kampus. Saya memang sefakultas dengannya, namun karena saya masih mahasiswa baru yang belum banyak teman, dan saya juga berbeda wisma dengannya, maka awalnya saya tidak terlalu mengenal sosok Elwa. Hingga kemudian kami menjadi teman menuntut ilmu, teman se-departemen, hingga teman sewisma. Dan saya pun mulai mengenali Elwa.
Saya akui saya memang agak berbeda dengan muslimah mipa lainnya, hingga saya baru menyadari bahwa selama ini saya ditempatkan di wisma bersama dengan seseorang yang akan mem-back up saya. Salah satunya adalah saat keputusan saya diwismakan dengan Elwa, saya yakin alasannya juga tidak jauh berbeda.^^
Dari sisi usia, kami terpaut hampir 2tahun, namun perbedaan usia tidak pernah mempengaruhi hubungan kami. Saya suka berkunjung ke kamar Elwa. Kamarnya rapi, dan koleksi bukunya banyak. Karena saya suka membaca buku, ditambah dengan ruangan yang nyaman, saya betah “membuat berantakan” kamar Elwa. hehehhe, maaf ya El..
Elwa merupakan lulusan dari Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo. Jangan tanya saya itu pondok pesantren apa, dimana, seperti apa, karena pada awal kuliah saya tidak jauh beda dengan kebanyakan anak Jakarta yang hanya tau “Sekolah itu di Sekolah Negeri, di SEkolah Unggulan”. Maka pesantren tidak masuk hitungan saya sama sekali. Tapi untuk kali ini, saya cukup serius menanggapi. Walaupun saya tidak tau sama sekali Pondok Pesantren tempat Elwa menuntut ilmu, nama Elwa cukup populer dikalangan senior-senior wisma. Muslimah keren lah, mana mahir berbahasa Arab pula.
Dan karena kemampuannya itu, saya sering bertanya kalimat-kalimat dalam bahasa arab. Apabila ada yang bertanya kepada saya arti suatu kalimat dalam bahasa Arab, maka saya diam-diam akan meng-sms Elwa terlebih dahulu untuk menanyakan artinya. hehehhe.. waktu berkunjung ke rumahnya di Secang, Magelang, saya kagum saat mendengar Elwa berkomunikasi dengan adiknya via telepon genggam dalam Bahasa ARAB. Kereeennn…
Saya banyak belajar dari Elwa. Kedisiplinannya, keistiqomahannya dalam kebaikan, kerapihannya, semuanya.. Sosok muslimah ideal menurut saya, dan saya mengakui jika saya mengaguminya..
*kali ini tentang Niko
Saya kenal Niko baru-baru saja saat saya diberi tanggung jawab berada dalam lembaga kemahasiswaan dibidang legislatif yang ada di kampus. Sebelumnya saya hanya sekedar tau saja. Saya tau Niko dari sahabat saya yang satu sekolah dengan Niko dulu di Sekolah Menengah. Dan saya pernah melakukan suatu kejahatan, yang saya tidak akan ungkap dalam tulisan ini, tapi saya amat berharap dia mau memaafkan kesalahan saya dulu (saat saya hanya sekedar tau).
Nama Niko beberapa kali beredar dalam pembicaraan saya dengan teman-teman, dan secara saat itu saya hanya sekedar tau, jadi saya tidak ambil pusing. Yang pasti saya berkesimpulan bahwa orang yang bernama Niko itu Bukan Orang Sembarangan. Aktif dikegiatan saat sekolah menengah dan kuliah, menjadi pemimpin diangkatan dan beberapa kegiatan, mempunyai kemampuan akademik yang baik.
Dan kemudian saya pun menjadi “bawahan” dikegiatan kampus.
Dari pengamatan saya, Niko orang yang banyak belajar dibidang legislatif. Yah, banyak orang belajar hal yang sama seperti dia. Awalnya saya cukup sulit menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinannya. Beberapa kali saya dan beberapa teman mengalami masalah komunikasi organisasi dengan Niko, yang alhamdulillah kemudian dapat diselesaikan dengan baik.
Sampai akhir, bayangan “bukan orang sembarangan” membuat saya agak canggung dengan Niko.
(Maka ketika saya diminta menulis testimoni tentang Niko, saya agak kelimpungan. Bukan apa-apa, bayangan itu masih ada walaupun saya sudah biasa saja. hehehhe)
maka saya akan menutup tulisan ini dengan doa,
Barokallahu lakuma wa baroka’alaikuma wajama’a bainakuma fii khoir..
Ruang karya, 1 syawal 1432 H
Nisa Rachma
*tentang Elwa, pernah juga saya tulis di http://nisachem05.multiply.com/journal/item/225/Best_Friends_Forever