Aku Mulai Sekolah, Bunda

Posted: July 24, 2013 in kids, myday, thinkin

Image

Di awal tahun ajaran baru ini, saya diberikan amanah menjadi Guru Sit In di Kelas Kelompok Bermain. Ini adalah pengalaman perdana saya menjadi guru sit in. Jadi di sekolah, saat penerimaan siswa baru, ada tahapan yang bernama sit in, dimana siswa yang akan bersekolah diujicobakan untuk bersekolah selama beberapa hari. Mau dilihat, yang paling mudah adalah apakah si anak enjoy atau tidak di sekolah. Karena terutama untuk level pre school, sering kali ada anak yang sebenarnya belum siap untuk bersekolah. Untuk yang seperti ini sebaiknya orang tua tidak perlu memaksakan diri untuk tetap menyekolahkan anaknya. Karena akan percuma jika si anak tidak enjoy, apalagi belum siap untuk sekolah, yang terjadi adalah kasihan bagi si anak.

Ada seorang anak yang sit in di tahun ajaran ini, hanya satu orang. Kita sebut namanya Raisa ya. Dan saya diberikan amanah untuk menjadi guru sit in nya Raisa. Untuk sit in kali ini Raisa akan langsung beradaptasi dengan calon teman-teman di calon kelasnya.

Hari pertama sit in, Raisa sukses menangis, terutama saat berpisah dengan ibunya. Kalau menurut guru-guru pre school, suatu hal yang wajar jika anak menangis di hari pertamanya, karena ia masih kaget dengan suasana yang baru, teman-teman sebaya yang banyak dan belum ia kenal, serta orang dewasa yang akan ia sebut “guru” yang akan menemani sebagian besar hari-harinya selain orang dewasa dilingkungan keluarganya.

Alhamdulillah Raisa tidak menangis sepanjang hari. Ketika pergi menuju kandang angsa dan melihat ikan, Raisa sudah tidak menangis lagi. Sepertinya Raisa mulai teralihkan, ia tidak lagi “sibuk” menangis akan situasi baru yang dihadapinya. Yang saya salut dari Raisa, meski sambil menangis, Raisa tetap merespon pertanyaan yang saya ajukan. Dan ketika cairan keluar dari hidungnya mengikuti cairan yang keluar dari matanya, saya tidak lagi meminta Raisa untuk berhenti menangis. Saya hanya mengambil tisu, membuang cairan dihidungnya, dan membiarkannya menangis kembali hingga ia merasa lega.

Image

Hari kedua Raisa diantar ayahnya. Lagi-lagi perpisahan diawal menyebabkan Raisa menangis. Tapi Raisa tidak menangis lama. Saat buka kelas, Raisa sudah tidak menangis lagi. Ia bahkan mulai mengikuti gerakan dan ikut melafalkan doa. Bahkan ketika akan bermain keluar untuk menangkap ikan, Raisa mulai berinteraksi dengan teman-teman barunya. Raisa berpegangan tangan menuju tempat menangkap ikan. Indah sekali melihatnya.

Image

Raisa kembali menangis saat diminta untuk menangkap sendiri ikannya. Mungkin karena merasa geli. Secara pribadi, ini juga pengalaman pertama saya menagkap ikan sendiri dengan tangan, dan memang rasanya geli. Apalagi untuk anak-anak yang sebagian besar juga merupakan pengalaman pertama dalam menangkap ikan. Tapi setelah itu Raisa tidak menangis lagi.

Dari dua hari melihat perkembangan Raisa, saya menemukan hal yang baru saya ketahui. Bahwa anak-anak punya cara sendiri untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Orang dewasa tidak perlu ikut campur. Peran orang dewasa adalah memperhatikan dan membantu menginisiasi saja. Hanya pada hal-hal tertentu saja orang dewasa boleh berperan. Selebihnya, percayakan pada si anak untuk beradaptasi, memulai pertemanan dengan cara mereka, ala anak-anak.

Saya tau, meski saya belum mengalaminya sendiri, bahwa perpisahan sementara dengan anak tidaklah mudah. Dan jika orang tua tidak ikhlas melepas anak bersekolah, akan bisa dipastikan sepanjang hari si anak akan tidak tenang dan rewel. Jadi ya ikhlaskan saja, percayakan anak pada guru di sekolah, dan yang terpenting, beri kepercayaan pada si anak.

Kemudian, jangan lupa untuk pamit, ketika akan berpisah sementara dengan anak. Agar anak tau bahwa perpisahan ini hanya sementara. Bahwa nanti sepulang sekolah anak bisa bertemu lagi dengan orang tuanya.

Maaf saya tidak bermaksud menggurui, saya hanya menangkap apa yang saya pelajari dari secuplik kegiatan saya menjadi guru sit in.

Salam hormat untuk para orang tua hebat yang sedang melepas buah hatinya bersekolah.

Salam hormat untuk para guru yang dengan sabar mendidik calon-calon pemimpin bangsa.

Srengseng, 24 Juli 2013

sumber gambar :

http://www.osbornis.com/wp-content/uploads/2013/04/bekal-sekolah.jpeg

http://eksposnews.com/photo/dir112012/eksposnews_jalan-kaki-ke-sekolah-membuat-anak-lebih-pintar.jpg

http://ads2.kompas.com/layer/canonphotocompetition/assets/upload/1337314863.jpg

Advertisements

Menjadi Batubata

Posted: July 18, 2013 in Uncategorized

Image

Batubata, sebuah batu yang terbuat dari tanah liat yang dikeringkan, merupakan suatu bahan bangunan yang penting. Batubata yang kecil itu disususn satu persatu, direkatkan dengan semen, dan viola.. Jadilah tembok yang kokoh, atau bagian bangunan lainnya. Batubata tidak pernah tau, ia akan ditempatkan dimana. Apakah akan berada ditumpukan bawah atau ditumpukan atas. Dan batu bata tidak pernah tau, apakah ia akan disusun dalam bagian pondasi dasar, bagian dinding ruang tamu, hingga bagian didinding kamar mandi. Batubata tidak memilih, tapi batubata menjadi bahan yang siap digunakan.

Saya ingat, senior dikampus dulu pernah berpesan agar menjadi seperti batubata, batubata yang siap digunakan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain, itu pesannya. Dan saya sangat ingin bisa bermanfaat untuk orang lain.

Ijinkan saya bercerita tentang seorang rekan. Saya mempunyai seorang rekan, sebut saja namanya Pak Bayu. Pak Bayu ini luar biasa. Karena Pak Bayu selalu berusaha meringankan beban orang lain. Beliau selalu membantu sebisa beliau dengan sebaik-baiknya, bahkan tak jarang sering juga melontarkan, “Miss Nisa, apa yang bisa dibantu?” atau “Ok, Miss. Saya siap bantu”. Bahkan kalau boleh berucap, tim beliau adalah tim yang paling kooperatif dengan tim saya. Dan saya amat berterima kasih serta bersyukur bisa mengenal beliau.

Menurut saya, setiap orang berpotensi menjadi bermanfaat. Yang menjadi titik tekan adalah, kita mau memilih yang mana, menjadi yang selalu bermanfaat untuk orang lain atau menjadi yang biasa saja, dan bahkan menjadi yang menyulitkan. Duh, naudzubillah.. Semoga kita selalu menjadi yang bermanfaat untuk orang lain. Atau paling tidak, kita tidak merepotkan orang lain.

Balik lagi ke batubata, istilah batubata sering sekali keluar terutama saat saya berada di organisasi, tepatnya saat suksesi organisasi. Pas mau pemilihan ketua atau mas’ul organisasi, nasehat seperti batubata hampir dikatakan selalu keluar. Ya, jadilah seperti batubata yang siap ditempatkan dimana saja, termaksud saat menjadi pemimpin atau bawahan dalam organisasi. Karena semua menyadari akan beratnya amanah yang akan dipikul, baik menjadi pemimpin ataupun menjadi bawahan. Tapi mungkin kelihatan lebih berat adalah menjadi pemimpin.

Sebenarnya tidak hanya dalam organisasi semata, dalam kehidupan pun sama. Setiap individu harus siap menjadi “batubata” yang “ready to use”. Kita harus siap, saya pun harus siap, mengkontribusikan apa yang saya miliki untuk kemanfaatan orang lain.

Tapi, apa yang bisa kita berikan, ya?

Maka harus dipersiapkan bekal atau amunisi untuk berkontribusi. Kalau mau ujian ya harus belajar. Kalau lapar ya harus makan, yang berarti harus mencari bahan masakannya, dimasak dan kemudian baru dimakan. Harus usaha, itu kuncinya. Allah suka dengan hambaNya yang ga cuma berdoa, tapi berusaha, termaksud berusaha dalam membekali diri kita agar bisa bermanfaat untuk orang lain.

Yuk, kita sama-sama membekali diri..

Belajar, bekerja, serta berusaha..

18th July 2013